Ada
seorang saudagar kaya raya. Satu hari, sang saudagar jatuh sakit. Umurnya
memang sudah tak lagi muda. Hampir mendekati uzur. Ia sudah merasa waktunya di
dunia sudah habis. Sebelum wafat, ia meninggalkan wasiat kepada kedua anaknya.
Wasiat pertama, bila ada yang berutang, janganlah engkau tagih. Untuk wasiat
kedua, bila keluar rumah, janganlah sampai engkau terkena sinar matahari.
Setelah beberapa tahun kemudian,
kedua anak tersebut sibuk dengan masing-masing urusannya. Mereka mencari nafkah
dan tinggal di dua kota yang berbeda. Akhirnya, setelah lima tahun tak pernah
berjumpa, mereka bertemu kembali di kediaman mereka dimana mereka pernah
dibesarkan dahulu.
Ada perbedaan mendasar dari kedua anak tersebut. Anak
pertama, ternyata hidupnya begitu miskin. Sedangkan anak kedua, terlihat sangat
makmur. Kekayaan melimpah ruah.
Sang ibu yang telah renta pun bertanya kepada kedua anaknya.
Ketika ditanya mengapa bisa terjadi perbedaan yang begitu mencolok, keduanya
menjawab karena melaksanakan amanah yang ayah wasiatkan kepada mereka.
Sang anak pertama menjelaskan, bahwa ia menjalankan wasiat
yang dibeirkan ayahnya. “Jangan menagih
utang kepada orang yang berutang kepadaku, maka setiap orang yang berutang
kepadaku, maka setiap orang yang berutang, tak pernah aku menagihnya, makanya
aku bangkrut”.
Untuk wasiat yang kedua, anak pertama menjelaskan, “Ayah berpesan supaya kalau aku pergi atau
pulang ke tempat bekerja, aku tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya aku
harus naik angkutan, padahal sebenarnya bisa saja berjalan kaki untuk
menghemat. Tetapi dengan naik angkutan, pengeluaranku bertambah banyak”.
Anak kedua ditanyakan hal yang sama. Mengapa ia bisa begitu
kaya raya dan hidupnya makmur. Katanya, “Ayah
berpesan, aku tidak boleh menagih orang yang berutang padaku, makanya aku tidak
pernah lagi memberi utang kepada para pelanggan.” Sedangkan untuk wasiat
kedua, anak kedua menjelaskan, “Ayah
berpesan, jangan terkena sinar matahari jika keluar rumah, maka aku berangkat
lebih pagi sebelum matahari terbit dan aku akan pulang ke rumah setelah
matahari terbenam. Jadi aku dapat membuka tokoku lebih cepat dari took yang
lain dan lebih lama menutup tokoku sampai matahari telah terbenam.”
Berbeda Persepsi Berbeda Arti
Dari kisah diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa
perbedaan persepsi seseorang bisa berakibat fatal. Gagal memahami, gagal pula
menyaring arti yang terkandung di dalamnya. Anak pertama mengartikan perkataan
ayahnya dengan arti yang keliru, berujunglah pada sesuatu yang tidak baik. Sedangkan
anak kedua memandang dari sudut yang tepat mengenai perkataan sang ayah.
Akhirnya dia bisa mendulang keuntungan yang berlipat.
Seperti mana dalam keseharian kita, kerap kita jumpai sebuah
kata yang memiliki banyak arti karena bisa dipandang dari sudut persepsi yang
berbeda.
Kata syukur dan sabar misalnya. Syukur kerap kali diartikan
tidak lupa diri ketika berlebihan mendapatkan kenikmatan. Senantiasa ingat
dengan yang dibawah ketika kita berada diatas. Syukur dikaitkan erat dengan
kenikmatan.
Adapun sabar, sering kali berkaitan dengan musibah atau
cobaan. Posisi yang susah, kondisi yang mengenaskan dan berbagai keadaan tidak
nyaman lainnya.
Maka bisa disimpiulkan, syukur itu kosakata milik orang kaya.
Adapun sabar adalah konsumsi wajib bagi orang miskin. Demikian persepsi yang
kita anut selama ini. Padahal kalau kita mau memandang dari sudut persepsi yang
lain maka sesungguhnya perbedaan antara sabar dan syukur itu amatlah tipis.
Jika kita bersyukur sebenarnya kita sedang bersabar, ketika
kita bersabar sebenarnya kita sedang bersyukur juga.
Ketika seseorang mendapatkan nikmat yang banyak, lalu
bersyukur atas nikmat itu, sebenarnya dia sedang bersabar untuk tidak
menghamburkan nikmatnya kearah yang salah. Mensyukuri nikmat dengan
membelanjakannya di jalan yang benar.
Demikian juga dengan orang yang sedang ditimpa musibah lalu
bersabar. Sebenarnya dia sedang bersyukur atas musibah yang ditimpanya tidak
seberat musibah yang Allah timpakan kepada orang lain. Dia bersyukur karena
ujian yang ditimpakan kepadanya ringan.
Karena Kita Bahagia, Hari Ini Indah
Selama ini kita berpendapat, kita bahagia jika Allah berikan
takdir yang baik kepada kita. Jika Allah ujikan takdir yang buruk kepada kita,
kebahagiaan tadi putus. Hilang tak berbekas.
Padahal kebahagiaan itu sendiri tergantung persepsi kita.
Seperti layaknya sabar dan syukur. Seorang kaya wajib bersabar, sebagaimana
seorang miskin wajib bersyukur pula.
Jadi, kebahagiaan itu munsul bukan karena takdir yang Allah
berikan kepada kita. Akan tetapi lebih cenderung kepada bagaimana kita
menyikapi takdir itu tadi.
Suatu musibah bisa menjadi nikmat jika kita memandang ke
bawah. Membandingkan dengan orang yang tertimpa musibah lebih berat dari yang
menimpa kita. Demikian juga nikmat juga bisa menjadi musibah jika kita memandang
ke atas. Membandingkan dengan yang mendapat nikmat jauh lebih banyak darinya.
Maka benarlah jika dikatakan sesungguhnya semua takdir yang
Allah tetapkan kepada hamba-Nya selalu baik. Tergantung bagaimana dan darimana
kita memandangnya. Bukanlah kita bahagia karena hari indah, tapi karena kita
bahagia maka hari inipun menjadi indah.



