Sabtu, 09 Desember 2017

Karena Kita Bahagia, Hari Ini Indah



Ada seorang saudagar kaya raya. Satu hari, sang saudagar jatuh sakit. Umurnya memang sudah tak lagi muda. Hampir mendekati uzur. Ia sudah merasa waktunya di dunia sudah habis. Sebelum wafat, ia meninggalkan wasiat kepada kedua anaknya. Wasiat pertama, bila ada yang berutang, janganlah engkau tagih. Untuk wasiat kedua, bila keluar rumah, janganlah sampai engkau terkena sinar matahari.


            Setelah beberapa tahun kemudian, kedua anak tersebut sibuk dengan masing-masing urusannya. Mereka mencari nafkah dan tinggal di dua kota yang berbeda. Akhirnya, setelah lima tahun tak pernah berjumpa, mereka bertemu kembali di kediaman mereka dimana mereka pernah dibesarkan dahulu.

Ada perbedaan mendasar dari kedua anak tersebut. Anak pertama, ternyata hidupnya begitu miskin. Sedangkan anak kedua, terlihat sangat makmur. Kekayaan melimpah ruah.

Sang ibu yang telah renta pun bertanya kepada kedua anaknya. Ketika ditanya mengapa bisa terjadi perbedaan yang begitu mencolok, keduanya menjawab karena melaksanakan amanah yang ayah wasiatkan kepada mereka.

Sang anak pertama menjelaskan, bahwa ia menjalankan wasiat yang dibeirkan ayahnya. “Jangan menagih utang kepada orang yang berutang kepadaku, maka setiap orang yang berutang kepadaku, maka setiap orang yang berutang, tak pernah aku menagihnya, makanya aku bangkrut”.

Untuk wasiat yang kedua, anak pertama menjelaskan, “Ayah berpesan supaya kalau aku pergi atau pulang ke tempat bekerja, aku tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya aku harus naik angkutan, padahal sebenarnya bisa saja berjalan kaki untuk menghemat. Tetapi dengan naik angkutan, pengeluaranku bertambah banyak”.

Anak kedua ditanyakan hal yang sama. Mengapa ia bisa begitu kaya raya dan hidupnya makmur. Katanya, “Ayah berpesan, aku tidak boleh menagih orang yang berutang padaku, makanya aku tidak pernah lagi memberi utang kepada para pelanggan.” Sedangkan untuk wasiat kedua, anak kedua menjelaskan, “Ayah berpesan, jangan terkena sinar matahari jika keluar rumah, maka aku berangkat lebih pagi sebelum matahari terbit dan aku akan pulang ke rumah setelah matahari terbenam. Jadi aku dapat membuka tokoku lebih cepat dari took yang lain dan lebih lama menutup tokoku sampai matahari telah terbenam.”

Berbeda Persepsi Berbeda Arti
Dari kisah diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa perbedaan persepsi seseorang bisa berakibat fatal. Gagal memahami, gagal pula menyaring arti yang terkandung di dalamnya. Anak pertama mengartikan perkataan ayahnya dengan arti yang keliru, berujunglah pada sesuatu yang tidak baik. Sedangkan anak kedua memandang dari sudut yang tepat mengenai perkataan sang ayah. Akhirnya dia bisa mendulang keuntungan yang berlipat.

Seperti mana dalam keseharian kita, kerap kita jumpai sebuah kata yang memiliki banyak arti karena bisa dipandang dari sudut persepsi yang berbeda.

Kata syukur dan sabar misalnya. Syukur kerap kali diartikan tidak lupa diri ketika berlebihan mendapatkan kenikmatan. Senantiasa ingat dengan yang dibawah ketika kita berada diatas. Syukur dikaitkan erat dengan kenikmatan.

Adapun sabar, sering kali berkaitan dengan musibah atau cobaan. Posisi yang susah, kondisi yang mengenaskan dan berbagai keadaan tidak nyaman lainnya.

Maka bisa disimpiulkan, syukur itu kosakata milik orang kaya. Adapun sabar adalah konsumsi wajib bagi orang miskin. Demikian persepsi yang kita anut selama ini. Padahal kalau kita mau memandang dari sudut persepsi yang lain maka sesungguhnya perbedaan antara sabar dan syukur itu amatlah tipis.

Jika kita bersyukur sebenarnya kita sedang bersabar, ketika kita bersabar sebenarnya kita sedang bersyukur juga.

Ketika seseorang mendapatkan nikmat yang banyak, lalu bersyukur atas nikmat itu, sebenarnya dia sedang bersabar untuk tidak menghamburkan nikmatnya kearah yang salah. Mensyukuri nikmat dengan membelanjakannya di jalan yang benar.

Demikian juga dengan orang yang sedang ditimpa musibah lalu bersabar. Sebenarnya dia sedang bersyukur atas musibah yang ditimpanya tidak seberat musibah yang Allah timpakan kepada orang lain. Dia bersyukur karena ujian yang ditimpakan kepadanya ringan.

Karena Kita Bahagia, Hari Ini Indah
Selama ini kita berpendapat, kita bahagia jika Allah berikan takdir yang baik kepada kita. Jika Allah ujikan takdir yang buruk kepada kita, kebahagiaan tadi putus. Hilang tak berbekas.

Padahal kebahagiaan itu sendiri tergantung persepsi kita. Seperti layaknya sabar dan syukur. Seorang kaya wajib bersabar, sebagaimana seorang miskin wajib bersyukur pula.

Jadi, kebahagiaan itu munsul bukan karena takdir yang Allah berikan kepada kita. Akan tetapi lebih cenderung kepada bagaimana kita menyikapi takdir itu tadi.

Suatu musibah bisa menjadi nikmat jika kita memandang ke bawah. Membandingkan dengan orang yang tertimpa musibah lebih berat dari yang menimpa kita. Demikian juga nikmat juga bisa menjadi musibah jika kita memandang ke atas. Membandingkan dengan yang mendapat nikmat jauh lebih banyak darinya.

Maka benarlah jika dikatakan sesungguhnya semua takdir yang Allah tetapkan kepada hamba-Nya selalu baik. Tergantung bagaimana dan darimana kita memandangnya. Bukanlah kita bahagia karena hari indah, tapi karena kita bahagia maka hari inipun menjadi indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar