Doa junjungan kita, Muhammad SAW lebih mengagumkan lagi. Pada
saat beliau dan pasukan Muslimin berhadapan dengan pasukan kafir Quraisy di
Badr dalam jumlah pasukan yang tidak seimbang, beliau menghadap kiblat lalu
mengangkat kedua tangannya. Beliau berdoa, “Ya
Allah, selamatkanlah aku sebagaimana janji-Mu. Ya Allah, berikanlah aku apa
yang t’lah aku janjikan padaku. Ya Allah, jika Engkau binasakan golongan ini
dari umat Islam, Engkau tidak disembah lagi dimuka bumi ini.” Beliau terus
mengangkat kedua tangannya sembari terus berdoa hingga jatuh selendangnya. Abu
Bakar mendekati beliau dan meletakkan kembali selendang itu dipundaknya. Sambil
berdiri di belakangnya, ia berkata, “Wahai
Nabi Allah, cukuplah permintaanmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia pasti memenuhi
janji-Nya untukmu.”
Allah lalu menurunkan firman-Nya,
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan
–Nya bagimu : “Sesungguhnya Aku akan
mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang
berturut-turut.” (QS. Al Anfal : 9)
Dan kemudian Allah mengirimkan
malaikat-Nya untuk membantu pasukan kaum Muslimin. Lalu di ayat lain Dia
berfirman, “Golongan itu pasti akan
dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (QS. Al Qamar : 45)
Indah sekali jawaban-jawaban itu,
yang tidak saja memberi kegembiraan dengan janji pahala, tapi juga kemenangan,
kelapangan dan kebahagiaan. Karena mereka, para nabi itu, dan orang – orang
yang beriman yang bersama mereka, memang selalu menjadikan doa sebagai sandaran
keadaan. Kebiasaan dan tradisi.
Di kehidupan ini, ita juga tentu
banyak mengalami berbagai problem, dari yang kecil hingga yang menciptakan
kondisi-kondisi kritis. Maka pertolongan Allah tentu selalu kita harapkan,
seperti mereka yang selalu mendapatkannya dalam berbagai kondisi kritis.
Dalam edisi ini kita berbicara
tentang doa, tentang kekuatannya dalam mengundang datangnya pertolongan Allah,
tentang bukti betapa dekatnya Allah dengan orang yang berdoa, yang selalu
menjawab seruan – seruan hamba-Nya dalam segala situasi, tak terkecuali pada
kondisi-kondisi dimana kita merasa terdesak dan terjepit. Semoga kita selalu
yakin dengan doa, dan menjadikannya sandaran dan tradisi dalam mengharapkan
datangnya jawaban dari Allah yang Maha Mendengar.
Oleh : Prima Trisna Aji, S.Ked., S.Kep., Ns., CWCC








