Rabu, 19 Juni 2013

Kisah Doa Rasulullah SAW Yang Mengharukan

Doa junjungan kita, Muhammad SAW lebih mengagumkan lagi. Pada saat beliau dan pasukan Muslimin berhadapan dengan pasukan kafir Quraisy di Badr dalam jumlah pasukan yang tidak seimbang, beliau menghadap kiblat lalu mengangkat kedua tangannya. Beliau berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku sebagaimana janji-Mu. Ya Allah, berikanlah aku apa yang t’lah aku janjikan padaku. Ya Allah, jika Engkau binasakan golongan ini dari umat Islam, Engkau tidak disembah lagi dimuka bumi ini.” Beliau terus mengangkat kedua tangannya sembari terus berdoa hingga jatuh selendangnya. Abu Bakar mendekati beliau dan meletakkan kembali selendang itu dipundaknya. Sambil berdiri di belakangnya, ia berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permintaanmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia pasti memenuhi janji-Nya untukmu.”


            Allah lalu menurunkan firman-Nya, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan –Nya bagimu : “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al Anfal : 9)

            Dan kemudian Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk membantu pasukan kaum Muslimin. Lalu di ayat lain Dia berfirman, “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (QS. Al Qamar : 45)



            Indah sekali jawaban-jawaban itu, yang tidak saja memberi kegembiraan dengan janji pahala, tapi juga kemenangan, kelapangan dan kebahagiaan. Karena mereka, para nabi itu, dan orang – orang yang beriman yang bersama mereka, memang selalu menjadikan doa sebagai sandaran keadaan. Kebiasaan dan tradisi.

            Di kehidupan ini, ita juga tentu banyak mengalami berbagai problem, dari yang kecil hingga yang menciptakan kondisi-kondisi kritis. Maka pertolongan Allah tentu selalu kita harapkan, seperti mereka yang selalu mendapatkannya dalam berbagai kondisi kritis.


            Dalam edisi ini kita berbicara tentang doa, tentang kekuatannya dalam mengundang datangnya pertolongan Allah, tentang bukti betapa dekatnya Allah dengan orang yang berdoa, yang selalu menjawab seruan – seruan hamba-Nya dalam segala situasi, tak terkecuali pada kondisi-kondisi dimana kita merasa terdesak dan terjepit. Semoga kita selalu yakin dengan doa, dan menjadikannya sandaran dan tradisi dalam mengharapkan datangnya jawaban dari Allah yang Maha Mendengar.

Oleh : Prima Trisna Aji, S.Ked., S.Kep., Ns., CWCC

Sabtu, 08 Juni 2013

MUKJIZAT SYUKUR


           Syukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada sesama manusia, keduanya adalah padanan yang muncul bersamaan. Siapapun yang pandai mensyukuri nikmat Allah, maka dia pandai berterima kasih kepada sesama. Dan keadaan itulah yang akan memberi energi dan kekuatan hebat dalam diri seseorang.



            BAGAIMANA PRAKTEK SYUKUR DAN TERIMA KASIH ?

            Kita bisa mempraktekkan syukur dan terima kasih melalui dua cara, yakni “Kata” dan “Perbuatan”. Melalui pekataan, yakni jika ada orang yang melakukan suatu pekerjaan untuk kita, ucapkanlah terima kasih padanya. Katakanlah : “Terima Kasih banyak”. Atau sampaikan kata-kata lain yang berisi ungkapan bahagia dan penghargaan kita atas apa yang telah dilakukannya. Dengan perkataan itu, orang tersebut akan berterima kasih juga pada kita.

            Ucapan dan rasa terima kasih seperti ini sama sekali tidak mengurangi kehormatan kita. Ini perlu saya sampaikan, sebab ada sebagian orang yang merasa bahwa ucapan terima kasih itu mengecilkan dan merendahkan harga diri. Ini keliru, sebab faktanya justru kebalikan dari itu, rasa terima kasih itu akan memberi kekuatan dan kemampuan luar biasa yang bisa memberi pengaruh hebat dalam kesuksesan kita di masa depan.

            Cara kedua adalah melalui perbuatan atau sikap. Kita harus bekerja secara optimal untuk orang lain sebagai tanda bahwa kita menjaga, menghormati dan menghargai amanah yang mereka berikan pada kita. Misalnya, kita menolong seseorang untuk memenuhi keperluannya atau kita bantu dia menghilangkan rasa sedih dalam hatinya, atau bahkan kita sekedar melepas senyum dihadapan saudara kita, menyisipkan kebahagiaan dihati anak kita, orang tua kita dan semacamnya.

            Boleh jadi para ilmuwan tidak menyadari pentingnya proses ini, kecuali baru belakangan. Sementara Islam telah menjadikan akhlaq bersyukur dan berterima kasih ini sebagai bagian penting dari sikap seorang mukmin dalam rangka ibadah kepada Allah SWT, dengan balasan surga. Jika kita bersyukur kepada Allah SWT dan berterima aksih kepada manusia, maka balasannya adalah surga.



            AMBIL ENERGI DARI SYUKUR

            Yang paling banyak menarik perhatian saya dalam perkataan para pakar tentang ilmu kesuksesan, inovasi dan pengembangan kepribadian adalah, mereka rata-rata memulai hari dengan bersyukur kepada Allah SWT. Saya teringat sabda Rasulullah SAW yang juga memulai harinya, setelah bangun dari tidur langsung dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Dalam hadist shahih disebutkan bahwa jika Rasulullah SAW terbangun dari tidur malamnya, beliau mengatakan : “Alhamdulillahil ladziiahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.” Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami dikumpulkan. (HR. Bukhari dan Muslim)

            Karena itu, Rasullullah SAW ingin kebaikan kepada kita dan memerintahkan kita untuk bersyukur kepada Allah dan juga berterima kasih pada sesama secara terus menerus atas kebaikan yang kita rasakan. Bahkan, dalam sabdanya yang lain, kesyukuran kepada Allah SWT dijadikan seimbang dengan terima kasih pada sesama manusia. Orang yang tidak terbiasa berterima kasih pada manusia, tidak mungkin bersyukur pada Allah SWT. Itulah yang terdapat dalam sabda Rasulullah SAW, “Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih pada manusia.” (HR. Turmudzi)

Kaulah Musikku


Intro ;

Song 1 :

Aku dan gitar kesayanganku
Bercerita tentang cinta..
Ku rangkai nada satu demi satu
Tercipta lagu indah untukmu

Ku tulis lirik termanis
Ku lantunkan kata demi kata
Ku pilih judul 'Kaulah Musicku"
Mencuri penggemar radio...

*Reff  ;
Aku seorang musisi...
Hatimu tangga nadaku
Senyummu bagai melodi
Dirimulah musikku...
 
Bridge :
Cinta begitu adanya... Ada intro berakhir coda
Aku dan sejuta mimpiku
Mengalun selaras irama...

Listening Now :

"Coming Soon"

Dia Yang Menjawab Doa Kita Saat Terdesak


            Disini saya akan mengupas tuntas tentang betapa dahsyatnya doa, iyaaa doa adalah sandaran bagi mereka orang – orang yang beriman. Saya menulis dan bercerita tentang Doa disini karena saya mengalaminya sendiri bagaimana kisah nyata saya ketika kita terdesak segala daya dan upaya sudah kita lakukan dan yang tersisa dan yang hanya bisa dilakukan hanya berpasrah diri serta hanya doa yang bisa menjadi sandaran kita untuk bertahan. Doa tanpa usaha sama juga kita meminta tanpa berusaha, sedangkan usaha tanpa doa sama juga kita berusaha tapi mengingkari kebesaran Allah yang Maha memberi.


            Doa itu, bagi orang yang beriman tak sekedar ibadah tempat mengharap pahala. Tetapi ia juga adalah sebagai sumber energi dan kekuatan, yang sekaligus menjadi bukti pengakuan kelemahannya kepada sang Maha Kuat. Ketika ia lemah dan merasa tak berdaya, doanya kepada Allah bisa menjadi sebab yang mengubah sebuah keadaan sulit dan menegangkan, berbalik menjadi kegembiraan dan kemenangan. Maka ia menjadikannya sandaran.

            Banyak berdoa merupakan tradisi para nabi. Kebiasaan orang-orang shalih, Jawaban-jawaban Allah terhadap keadaan sulit yang mereka alami, selalu lahir dari doa-doa dan rintihan mereka yang tiada yang putus.
 

            DOA ITU KEKUATAN

            Doa itu adalah energi, yang sangat terasa kala kita sedang terdesak. Namun ia tidak hanya membantu kita dalam keterdesakan, sebab doa itu, kata para ulama, sesungguhnya memberi dampak pada sesuatu yang terjadi dan yang belum terjadi.

            Kebersamaan Allah dengan kita tak pernah putus. Dia selalu ada, dimana saja kita berada dan dalam situasi sulit apapun yang kita hadapi. Sejengkal saja Dia tidak pernah menjauh, apalagi meninggalkan kita.
            TAK ADA lorong yang tanpa ujung. Tak ada malam yang tak terganti pagi. Setiap masalah selalu menyisakan celah untuk diatasi.

            JAWABAN DOA itu tergantung pada kejujuran kita untuk kembali dan menundukkan diri di hadapan-Nya, tidak tergesa-gesa dan kehilangan kesabaran. Jawaban itu selaras dengan kesungguhan taubat kita.


            DOA BISA MENOLAK TAKDIR

            Doa adalah obat yang paling mujarab. Doa juga bisa sebagai penangkal bala atau cobaan, mencegah musibah serta menghilangkannya. Doa juga dapat meringankan musibah yang datang. Doa adalah senjata bagi orang yang beriman. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya doa itu adalah senjata bagi orang yang beriman, tiang agama, dan sinar langit dan bumi.”

            Dalam kitab yang sama, diriwayatkan pula hadist, dari Ibn Umar ra Rasulullah SAW bersabda, “Doa itu bermanfaat bagi musibah yang telah turun dan yang belum turun. Oleh karena itu, wahai hamba Allah, kalian harus berdoa.”

            Dalam kitab tersebut, juga diriwayatkan hadist dari Tsaufan. Nabi Muahammad SAW bersabda, “Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa. Dan tidak ada yang menambah amal pahalanya kecuali kebaikan. Sesungguhnya seseorang tidak memperoleh rejeki mungkin karena dosa yang telah dilakukannya.”

Oleh : Prima Trisna Aji, S.Ked., S.Kep., Ns., CWCC

Mengapa Bersedih dan Berputus Asa


Seperti melihat gelas yang hanya separuhnya berisi air, sisanya kosong. Ungkapan ini kerap diibaratkan sebagai cara pikir orang yang mudah putus asa, gampang kecewa. Selalu melihat sisi yang tidak sempurna dan cenderung menilai sesuatu dari sudut yang justru kurang. Kehidupan pasti tidak sempurna dan pasti ada yang kurang. Tapi sebenarnya, kita bisa melihat dari sisi yang lain. Memandang dari sisi yang ada, yang kita punya, yang lebih.



Mungkin kita merasa tidak memiliki cara pandang seperti itu. Tapi sebenarnya, saat harus menghadapi masalah, disitulah seseorang bisa dinilai bagaimana dia sebenarnya memandang peristiwa. Ketika mengalami peristiwa yang sama sekali tidak ingin dialami, banyak orang yang justru melihatnya dari sisi yang membuatnya bersedih, kecewa, sebagian putus asa.

Inti dari keputusasaan adalah tak adanya rasa syukur. Inti dari kesedihan adalah tidak adanya baik sangka terhadap Allah. Inti betapa mudahnya kita gelisah, tidak tenang adalah rasa ketidakbersamaan kita dengan Allah. Sebab orang yang bersyukur, pasti akan melihat banyak kemudahan, kenikmatan, kebahagiaan yang patut disyukuri. Bukan melihat pada kesulitan, kesedihan, dan ketiadaan yang membuatnya putus asa. 


Orang yang slalu berbaik sangka pada Allah, akan melihat semua yang terjadi memiliki rahasia kebaikan yang Allah beri dibaliknya. Orang yang mudah gelisah, mudah kwatir, tidak tenang hatinya, adalah karena ia tidak merasakan kebersamaannya dengan Allah SWT. Merasa tidak bersama Allah SWT, sama artinya merasakan tidak memiliki sandaran, tidak punya perlindungan, tidak ada yang diharapkan.

Cermin perasaan kita, sebenarnya bisa memunculkan peristiwa. Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah hadist Qudsi, Allah SWT berfirman, : “Aku sesuai prasangka hamba-Ku apa saja yang hamba-Ku. Maka berprasangkalah kepada-Ku apa saja yang hamba-Ku mau.” Hadist ini mengungkapkan sikap optimis dan baik memandang semua persoalan, sebagai janji Allah SWT kepada kita bila kita mampu menumbuhkan prasangka yang baik kepada-Nya.

Perhatikan lagi perkataan Imam Ib-Nul Qayyim rahimahullah. ”Jika ada orang yang beranggapan bahwa Allah tidak akan menolong orang yang menolong agama-Nya, dan takkan memenangkan agama-Nya, berarti dia berburuk sangka kepada Allah.” Atau juga perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, “Dosa yang paling besar adalah menyekutukan Allah SWT dan putus asa dari kasih sayang Allah.”

Begitu indahnya, memperhatikan bagaimana Allah SWT menuntun jiwa kita untuk selalu ada dalam situasi yang tenang, jauh dari kesedihan, tidak gelisah , tidak mudah kecewa. Dalam Al Qur’an ajakan untuk bersikap optimis dalam melewati ragam masalah itu, kadang dimuat dalam redaksi anjuran agar merasakan akan adanya kebaikan dan kasih sayang-Nya. Terkadang berupa larangan bersedih bahkan menganggap keputusasaan itu sebagai perilaku orang – orang kafir atau orang-orang yang tersesat. Terkadang berupa redaksi yang menganjurkan kita untuk berhusnuz zhan atau berprasangka baik kepada Allah SWT.



            INTI DARI KEPUTUSASAAN ADALAH  tak adanya rasa syukur. Inti dari kesedihan adalah tidak adanya baik sangka terhadap Allah. Inti dari betapa mudahnya kita gelisah, tidak tenang, adalah rasa ketidakbersamaan kita kepada Allah SWT.

            Memandang sesuatu dari sudut yang membuat kita semangat, optimis, tidak mudah bersedih dan takkan pernah putus asa, disebut dalam bahasa Arab dengan at tafaa-ul. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan hadirnya, perasaan akan datangnya kebaikan, kebahagiaan, kesenangan dan terhindar dari situasi yang membuat kita sakit dan tidak suka. Rasa seperti ini bila kita miliki akan mengacu kemampuan berpikir, memperkuat semangat dan keyakinan untuk melewati beragam persoalan dengan sukses dan dengan lebih baik.

            Masalahnya sekarang bagaimana kita memiliki pilar-pilar tafaa-ul itu. Para ulama merumuskan empat pilar, yaitu pilar merasa bersama Allah, pilar ber-husnuzhan kepada Allah, pilar syukur serta sabar.

Oleh : Prima Trisna Aji, S.Ked.,S.Kep.,Ns, CWCC

Kamis, 06 Juni 2013

Kampanye Anti Rokok Sedunia

Hari Sabtu tanggal 01 Juni 2013 adalah bertepatan dengan hari Rokok sedunia yang diperingati oleh seluruh masyarakat aktivitis sedunia yang menentang tentang zat adiktif yang bernama “Rokok”. Iyaa memang benar karena barang tersebut sudah berapa banyak setiap hari manusia terjangkit kanker paru-paru dan ribuan nyawa melayang karena barang tersebut. Saya disini juga salah satu aktivis yang menentang rokok, iya benar selain barang ini sangat berbahaya dan merugikan dan sampai detik ini pun saya tidak bisa menghentikan kebiasaan Ayah saya yang juga seorang perokok berat.



Saya tahu sekali apa dampaknya rokok terhadap tubuh manusia, sudah berjuta cara saya lakukan supaya Ayah saya tidak merokok dan meninggalkan barang tersebut tetapi semua itu sia-sia. Ayah saya selalu berusaha merokok tanpa sepengetahuan saya dan ibu serta keluarga saya. Dan pada akhirnya saya tergerak untuk tergabung menjadi aktivis salah satu kampanye anti rokok, saya paham tergabung menjadi aktivis anti rokok harus siap-siap disibukkan juga dengan kampanye anti rokok. Karena selain sebagai dosen pengajar salah satu Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan Di Solo saya juga masih terdaftar sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Swasta dikota Solo. Meski sempat terhenti sekolah profesi Coas dikarenakan biaya kini ditahun ini dibulan Juli saya kembali menyelesaikan sekolah Coass yang tinggal menyelesaikan beberapa stase setelah saya off dan bekerja sebagai dosen pengajar dan di Rumah Sakit. Ditambah dengan rencana dibulan September nanti saya akan melanjutkan jenjang Strata Dua di Universitas Gajah Mada akan membuat aktivitas semakin sibuk terutama ditambah menjadi aktivis kampanye anti Rokok.



Dan pada suatu saat hari yang saya tunggu-tunggu pun datang, yaitu hari Rokok sedunia. Iyaa... pada acara Care Free Day dikota Solo saya dan aktivis rokok lainnya kembali menggelar gerakan dan pembagian selebaran dan menggugah kesadaran masyarakat supaya tersadar bahwa Rokok itu sangat berbahaya. Entah tak tahu sampai kapan gerakan ini akan berhasil dan menggugah masyarakat untuk sadar supaya tidak merokok lagi, tapi saya tetap optimis untuk selalu terus berjuang sampai habis-habisan karena saya percaya sesuatu yang dilandasi niat baik insya allah akan baik juga endingnya. Karena saya sadar Ayah saya sendiri adalah seorang perokok berat dan saya tidak ingin saya menyesal dikemudian hari karena saya tidak berbuat apa-apa untuk menyadarkan Ayah saya dan masyarakat semuanya tentang bahaya merokok.




Yaa selama nafas ini masih berhembus.. saya akan terus berjuang supaya Ayah saya dan masyarakat tersadar bahwa Rokok adalah barang yang berbahaya yang bisa membunuh kita kapan saja...

Rabu, 05 Juni 2013

PENGALAMAN MEMBIMBING MAHASISWA DI DAERAH PELOSOK

            Di diary ini saya akan kembali menceritakan pengalaman saya sebagai dosen pengajar ketika membimbing mahasiswa di daerah pelosok terpencil, iyaa mungkin bagi saya sangat luar biasa ketika saya ditunjuk sebagai pembimbing praktek komunitas sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Solo di daerah pelosok. Tepatnya didaerah Simo boyolali didekat Merapi, mungkin namanya familiar kota Boyolali tetapi menurut geografisnya tempat tersebut sangat pelosok dan harus melewati jalan naik turun gunung yang curam.

            Disana saya membimbing sejumlah satu angkatan mahasiswa angkatan semester akhir, pada waktu itu saya harus mendampingi mahasiswa untuk acara MMD atau dikenal sebagai musyawarah antara para tokoh desa dan antara mahasiswa. Dalam perjalanan menuju tempat tersebut, saya harus jatuh sakit demam dikarenakan cuaca yang tidak menentu. Dalam perjalanan malam yang gelap gulita disertai hujan, mobil harus melewati hutan belantara yang gelap disertai petir. Tepat pada pkl. 19.30 wib malam akhirnya sampai pada tempat Kepala Desa tersebut dan kita sudah disambut oleh para mahasiswa dan para tokoh desa.

            Acara MMD dimulai dengan sambutan dari saya selaku dosen pengajar dilanjut dengan sambutan kepala desa dll. Acara MMD Desa yang semula lancar dan tertib kembali dibuat tegang, dengan beberapa tokoh masyarakat yang menginginkan bahwa mahasiswa yang praktek disini jangan hanya soal kesehatan saja tetapi juga bisa membangun desa. Belum lagi dengan hadirnya beberapa kandidat kepala desa yang ingin mencari simpati dalam acara tersebut. Debat dan penjelasanpun diutarakan dari mahasiswa kepada para tokoh masyarakat tetapi dari beberapa tokoh masyarakat banyak yang belum menerima sehingga debat kembali tegang dengan membawa isu politik dikarenakan didaerah tersebut sebentar lagi juga dilaksanakan pemilihan kepala desa.


            Dan pada akhirnya setelah situasi yang memanas, pada akhirnya saya harus turun tangan untuk meredam ketegangan tersebut, dengan nada yang rendah dan secara perlahan-lahan saya mencoba merangkul kepada calon kepala desa bahwa mahasiswa kita disini adalah berfokus pada kesehatan bukan pada sarana fisik seperti membangun gapura dll. Bahwa focus kita disini adalah meningkatkan derajad kesehatan serta menyembuhkan penyakit, karena kesehatan itu adalah anugrah termahal yang banyak orang tidak mengetahuinya, banyak orang yang tidak tahu berapa banyak habis kita menghirup oksigen secara bebas didunia ini. Sedangkan apabila kita harus rawat inap di Rumah Sakit harus membayar beratus-ratus juta untuk biaya perawatan dll, kalau satu liter oksigen di Rumah Sakit seharga Rp.100.000,- yang hanya bisa bertahan 15 menit jadi berapa jumlah yang harus dibayar kita yang menghirup udara bebas dari Allah SWT selama kita hidup didunia ini.


            Setelah saya memberikan penjelasan panjang lebar dan pada akhirnya situasi kembali mereda, setelah aspirasi dan kemauan warga kita tampung dan akhirnya acara MMD selesai dengan hasil keputusan “Wine wine solution”, dengan meningkatkan kesehatan para warga dan peningkatan kesadaran warga masyarakat tentang kesehatan secara gratis dari mahasiswa. Ketika kesehatan dicampur adukkan dengan politik pada akhirnya akan menjadi kacau, karena sesungguhnya kehidupan politik adalah sangat berbeda apabila disangkut pautkan dengan kehidupan kesehatan.