Seperti melihat gelas yang hanya separuhnya berisi air,
sisanya kosong. Ungkapan ini kerap diibaratkan sebagai cara pikir orang yang
mudah putus asa, gampang kecewa. Selalu melihat sisi yang tidak sempurna dan
cenderung menilai sesuatu dari sudut yang justru kurang. Kehidupan pasti tidak
sempurna dan pasti ada yang kurang. Tapi sebenarnya, kita bisa melihat dari
sisi yang lain. Memandang dari sisi yang ada, yang kita punya, yang lebih.
Mungkin kita merasa tidak memiliki cara pandang seperti itu.
Tapi sebenarnya, saat harus menghadapi masalah, disitulah seseorang bisa
dinilai bagaimana dia sebenarnya memandang peristiwa. Ketika mengalami
peristiwa yang sama sekali tidak ingin dialami, banyak orang yang justru
melihatnya dari sisi yang membuatnya bersedih, kecewa, sebagian putus asa.
Inti dari keputusasaan adalah tak adanya rasa syukur. Inti
dari kesedihan adalah tidak adanya baik sangka terhadap Allah. Inti betapa
mudahnya kita gelisah, tidak tenang adalah rasa ketidakbersamaan kita dengan
Allah. Sebab orang yang bersyukur, pasti akan melihat banyak kemudahan,
kenikmatan, kebahagiaan yang patut disyukuri. Bukan melihat pada kesulitan, kesedihan,
dan ketiadaan yang membuatnya putus asa.
Orang yang slalu berbaik sangka pada Allah, akan melihat
semua yang terjadi memiliki rahasia kebaikan yang Allah beri dibaliknya. Orang
yang mudah gelisah, mudah kwatir, tidak tenang hatinya, adalah karena ia tidak
merasakan kebersamaannya dengan Allah SWT. Merasa tidak bersama Allah SWT, sama
artinya merasakan tidak memiliki sandaran, tidak punya perlindungan, tidak ada
yang diharapkan.
Cermin perasaan kita, sebenarnya bisa memunculkan peristiwa.
Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah hadist Qudsi, Allah SWT
berfirman, : “Aku sesuai prasangka
hamba-Ku apa saja yang hamba-Ku. Maka berprasangkalah kepada-Ku apa saja yang
hamba-Ku mau.” Hadist ini mengungkapkan sikap optimis dan baik memandang
semua persoalan, sebagai janji Allah SWT kepada kita bila kita mampu
menumbuhkan prasangka yang baik kepada-Nya.
Perhatikan lagi perkataan Imam Ib-Nul Qayyim rahimahullah. ”Jika ada orang yang beranggapan bahwa Allah
tidak akan menolong orang yang menolong agama-Nya, dan takkan memenangkan
agama-Nya, berarti dia berburuk sangka kepada Allah.” Atau juga perkataan
Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, “Dosa yang
paling besar adalah menyekutukan Allah SWT dan putus asa dari kasih sayang
Allah.”
Begitu indahnya, memperhatikan bagaimana Allah SWT menuntun
jiwa kita untuk selalu ada dalam situasi yang tenang, jauh dari kesedihan,
tidak gelisah , tidak mudah kecewa. Dalam Al Qur’an ajakan untuk bersikap
optimis dalam melewati ragam masalah itu, kadang dimuat dalam redaksi anjuran
agar merasakan akan adanya kebaikan dan kasih sayang-Nya. Terkadang berupa
larangan bersedih bahkan menganggap keputusasaan itu sebagai perilaku orang –
orang kafir atau orang-orang yang tersesat. Terkadang berupa redaksi yang
menganjurkan kita untuk berhusnuz zhan atau berprasangka baik kepada Allah SWT.
INTI DARI KEPUTUSASAAN
ADALAH tak adanya rasa syukur. Inti dari
kesedihan adalah tidak adanya baik sangka terhadap Allah. Inti dari betapa
mudahnya kita gelisah, tidak tenang, adalah rasa ketidakbersamaan kita kepada
Allah SWT.
Memandang sesuatu dari
sudut yang membuat kita semangat, optimis, tidak mudah bersedih dan takkan
pernah putus asa, disebut dalam bahasa Arab dengan at tafaa-ul. Sebagian ulama mendefinisikannya dengan hadirnya,
perasaan akan datangnya kebaikan, kebahagiaan, kesenangan dan terhindar dari
situasi yang membuat kita sakit dan tidak suka. Rasa seperti ini bila kita
miliki akan mengacu kemampuan berpikir, memperkuat semangat dan keyakinan untuk
melewati beragam persoalan dengan sukses dan dengan lebih baik.
Masalahnya sekarang
bagaimana kita memiliki pilar-pilar tafaa-ul
itu. Para ulama merumuskan empat pilar, yaitu pilar merasa bersama Allah, pilar
ber-husnuzhan kepada Allah, pilar syukur serta sabar.
Oleh : Prima Trisna Aji, S.Ked.,S.Kep.,Ns, CWCC
Oleh : Prima Trisna Aji, S.Ked.,S.Kep.,Ns, CWCC


Tidak ada komentar:
Posting Komentar